Terapi Hipnotis yang Aman Cepat dan Efektif

Mulai banyaknya tayangan hipnosis di televisi beberapa tahun belakangan ini, membuat hipnosis menjadi semakin populer di masyarakat Indonesia. Seingat saya hal tersebut dimulai dengan teyangan berjudul “Hipnotis” di suatu stasiun televisi swasta yang dibawakan oleh Romy Rafael. Mulai saat itu, hipnotis yang selama ini sudah diliputi oleh berbagai persepsi negatif, bertambah jelas (persepsi negatifnya), hehehe…

Melalui tulisan ini saya ingin sedikit meluruskan berbagai persepsi-persepsi salah tentang hipnotis yang selama ini beredar di masyarakat. Kesalahan persepsi tentang hipnotis di masyarakat memang suatu hal yang wajar, karena sejak awal sejarah hipnosis itu sendiri selalu diselubungi dengan unsur mistik dalam prakteknya. Hingga saat ini, jangankan masyarakat Indonesia, masyarakat di negara-negara maju pun masih banyak yang berpersepsi salah tentang hipnosis. Ok, saya rasa sudah cukup introduksinya, mari sekarang kita bahas tentang apa itu hipnosis.🙂

Kalau anda cermat membaca, dari tadi saya menggunakan dua istilah yang berbeda, yaitu ‘hipnosis’ dan ‘hipnotis’. Itu bukan kesalahan penulisan, memang disengaja. Kedua istilah ini adalah istilah serapan, jadi untuk melihat arti kedua kata ini yang sebenarnya, ada baiknya kita meninjau kembali kata dalam bahasa asalnya. Hipnosis diserap dari bahasa inggris ‘hypnosis’, dan hipnotis diserap dari bahasa inggris ‘hypnotist’. Arti dari ‘hypnotist’ adalah orang yang melakukan ‘hypnosis’. Arti ini mirip dengan ‘guitarist’ adalah orang yang memainkan ‘guitar’, dan ‘pianist’ adalah orang yang memainkan ‘piano’. Jadi selama ini di indonesia terjadi salah kaprah dalam penyebutan kata, kata yang seharusnya hipnosis disebut menjadi hipnotis.

Kata hypnosis itu sendiri diartikan bermacam-macam dalam bahasa inggris. Ambil contoh kamus Encarta, salah satu definisi hypnosis dalam kamus ini adalah “artificially induced condition: a condition that can be artificially induced in people, in which they can respond to questions and are very susceptible to suggestions from the hypnotist” yang berarti suatu kondisi yang diinduksi sengaja sengaja di mana orang dalam kondisi tersebut akan sangat sugestif terhadap sugesti dari hipnotis.

Kemudian kamus Merriam Webster mengartikan hypnosis sebagai “a trancelike state that resembles sleep but is induced by a person whose suggestions are readily accepted by the subject” yang kurang lebih berarti suatu kondisi seperti trance yang mirip dengan tidur, tetapi diinduksi secara sengaja oleh seseorang yang sugestinya siap diterima oleh subyek.

Jika kita coba menggabungkan kedua definisi di atas, kita bisa simpulkan hipnosis adalah suatu KONDISI (PIKIRAN) yang diinduksi secara sengaja oleh seorang hipnotis yang sugestinya siap diterima oleh subyek. Perhatikan bahwa ada kata ‘hipnotis yang sugestinya siap diterima oleh subyek’. Jadi jika subyek tidak siap menerima sugesti dari hipnotis, dia tidak akan bisa dibawa masuk ke kondisi hipnosis.

Ada definisi hypnosis yang lebih baik lagi menurut saya, definisi ini dibuat oleh US Department of Education Human Services Division. Jika kedua definisi di atas berkaitan dengan KONDISI PIKIRAN, definisi ini berkaitan dengan suatu PROSES, yaitu “the bypass of the critical factor of the conscious mind, followed by the establishment of selective acceptable thoughts”. Artinya hipnosis adalah terlewatinya faktor kritis dari pikiran sadar, yang diikuti dengan masuknya ide tertentu yang dapat diterima. Ide yang berhasil melewati faktor kritis dari pikiran sadar akan diterima oleh pikiran bawah sadar, jika tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang tersimpan pada pikiran bawah sadar (tentang pikiran sadar dan bawah sadar, akan saya jelaskan pada notes selanjutnya).

Secara saintifik, tercapainya hipnosis sebagai kondisi pikiran bisa diukur dengan EEG (electroencephalography), alat untuk mengukur aktivitas gelombang otak. Secara garis besar, frekuensi gelombang otak yang terukur bisa dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu beta (14-30 Hz), alpha (sekitar 7-13 Hz), theta (sekitar 4-7 Hz), dan delta (sekitar 0,1-4 Hz). Kondisi hipnosis adalah kondisi di mana gelombang otak yang dominan adalah alpha atau theta. Sedangkan gelombang beta akan dominan pada kondisi pikiran sadar aktif dan banyak menganalisis, gelombang delta dominan pada kondisi tidur tanpa mimpi. Sederhananya, kondisi hipnosis adalah kondisi alami di mana frekuensi gelombang otak berada di antara frekuensi tidur tanpa mimpi dan kesadaran sehari-hari. Perlu diingat juga walaupun seorang subyek telah berada pada kondisi gelombang otak alpha atau theta, namun jika subyek tidak siap/mau menerima sugesti dari hipnotis, ataupun sugesti yang diberikan berlawanan dengan nilai-nilai yang tersimpan pada pikiran bawah sadar subyek, ide tersebut tidak akan diterima dan dijalankan oleh subyek.

Dari pembahasan di atas, kita lihat bahwa sebenarnya yang memegang kontrol adalah subyek hipnosis, bukan sang hipnotis. Oleh karena itu, ada yang menyebutkan bahwa “all hypnosis is self-hypnosis”. Semua hipnosis adalah hipnosis diri. Peran seorang hipnotis dalam suatu proses hipnosis hanya membimbing subyek masuk kedalam kondisi hipnosis, dan memberikan sugesti, tetapi diterima atau tidaknya sugesti ini ada di tangan subyek.

salam hidup lebih baik,

Jimmy K Santosa,CHT-AHI

Hipnoterapis

sumber : Yendi,Cht -AHI

Comments on: "HIPNOSIS-pengertian yang lebih mendalam tentang hipnosis" (1)

  1. baik sekali artikelnya bisa diusulkan agar menjadi kurukulum bagi anak sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: