Terapi Hipnotis yang Aman Cepat dan Efektif

Dari klinik hipnoterapi jakarta, kami mau menyampaikan sebuah cerita yang kirannya semakin memperjelas pemahaman tentang hipnoterapi. Ada dua contoh kejadian sehari-hari yang mungkin kalau anda mengalaminya anda akan berkata: “TEORINYA MUDAH, TAPI PRAKTEKNYA KAN SUSAH”. Berikut contohnya:

Ketika seseorang remaja putri, sebut saja C, sedang patah hati, putus dari pacarnya sahabatnya bersimpati mengatakan kepada dia “aku ngerti kog perasaan kamu, aku tau kamu sedih, udahlah, lupakan aja dia, masih banyak cowok di dunia ini, ntar juga kamu dapat yang lebih baik… Kamu cakep kog, justru harusnya dia yang nyesal putus dari kamu”

Seorang wanita, sebut saja D, yang pernah dikhianati oleh pacarnya yang dulu, menjadi sangat paranoid dan overprotective kepada pacarnya yang sekarang. Hal tersebut membuat dia dan pacarnya jadi sering bertengkar. Kemudian seorang teman baiknya mencoba menasehati “kamu cobalah beri pacarmu kepercayaan, gausah curigaan gitu, kalau kamu gini terus, hubungan kalian ga akan bisa bertahan lama, percaya deh…”

Apa yang sama dari kedua contoh di atas? Iya, benar! Anda pasti sudah tau… Yang sama adalah “teorinya mudah, tapi prakteknya kan susah“.

Awalnya si C menjawab ke temannya dengan jawaban kurang lebih seperti ini, “iya deh aku akan coba lupain dia, aku cari kesibukan”. Tapi apa yang terjadi adalah, dalam kesibukannya pun dia tetap teringat dengan mantannya, dan tetap merasa sakit hatinya. Kesekian kali dia mendengar nasehat untuk melupakan mantannya, walaupun nasehat tersebut diawali dengan kata “aku mengerti perasaanmu”, si C menjawab “enggak, kamu ga ngerti perasaan aku, aku udah berusaha ngelupain, tau? tapi ga bisa, aku tetap aja inget walaupun aku gak mau!” Familiar dengan kejadian seperti ini?

Sedangkan si D menjawab temannya dengan “aku udah mencoba memberi kebebasan kepada pacarku, tapi aku ga bisa, sedikit aja dia telat balas smsku, pikiran macem-macem secara otomatis muncul, bukan aku sengaja…” Pernah dengar cerita seperti ini?

Mirip seperti kalimat-kalimat kutipan yang terdengar indah seperti “cintailah musuhmu” atau “biarkan masa lalu tinggal di masa lalu, dan masa depan tetap di masa depan, lakukan saja yang terbaik untuk saat ini”, tapi itu kan cuma kalimat-kalimat yang menyatakan APA yang perlu dikerjakan, tidak berisi BAGAIMANA cara mengerjakannya.

Memang ..Ngomongnya sih gampang, tapi ngelakuinnya ga segampang itu… Bener?

MEMANG SUSAH KALAU KITA GA TAU CARANYA. Saya TIDAK bilang bahwa setelah kita tau caranya, akan menjadi mudah lho ya….

Menurut saya, cara paling tua dan paling bermanfaat untuk mengatur pikiran kita adalah dengan melatih pikiran melalui meditasi. Tetapi banyak orang kesulitan untuk melakukannya.

Kalau kita mau sedikit saja mencari di internet, ada sangat banyak cara diluar cara biasa, yang bisa dipakai untuk membantu kita mengatur emosi kita dengan lebih baik. Beberapa teknik yang saya tau adalah NLP (Neuro Liguistic Programming), EFT (Emotional Freedom Technique), hipnoterapi, dan lain-lain.

Apa sih yang membuat kita terkadang sulit mengendalikan emosi kita? Well, sejauh yang saya tahu, masing-masing teknik, masing-masing cabang ilmu, mempunyai penjelasan dan cara pandangnya tersendiri.

Menurut saya ini seperti perumpamaan orang-orang buta yang dihadapkan kepada gajah, masing-masing dari mereka memegang bagian yang berbeda dari gajah, dan kemudian mereka menjelaskan apa itu gajah berdasarkan pengalamannya. Yah, karena faktor subjektif, ada beberapa yang kurang tepat pastinya.

Saya berharap, suatu saat ada orang buta yang bisa menggabungkan semua data yang diberikan oleh orang-orang buta lainnya, menjadi data yang cukup lengkap untuk menjelaskan gajah secara keseluruhan.

Pada catatan kali ini saya akan menceritakan mengapa hal tersebut bisa terjadi dari sudut pandang hipnosis /hipnoterapi.

Dari sudut pandang hipnoterapi, alasan kita sulit mengatur emosi kita secara sadar cukup sederhana, yaitu karena memang emosi adanya di pikiran bawah sadar😀

Ketika suatu trauma terjadi, pikiran bawah sadar menarik suatu kesimpulan atas kejadian tersebut. Kesimpulan tersebut selanjutnya berkembang menjadi keyakinan (belief) bagi orang tersebut.

Di sini, ketika saya menyebut trauma, kejadiannya tidaklah harus sangat traumatis. Kesimpulan yang diambil oleh pikiran bawah sadar atas suatu kejadian kadang terlihat lucu bagi orang awam.

Contohnya, ketika seorang anak datang ke ayahnya untuk menunjukkan gambar yang baru selesai dibuatnya, dan ditolak oleh ayahnya karena ayahnya sedang sibuk bekerja, bisa jadi sang anak merasa sedih karena ditolak oleh figur yang dia pandang penting dalam hidupnya.

Dari kejadian sepele ini, pikiran sang anak (dengan segala keterbatasan wawasan seorang anak) bisa saja menyimpulkan bahwa “aku tidak berharga” atau “aku tidak penting” atau “aku tidak layak dicintai” atau kesimpulan-kesimpulan negatif lainnya karena ayahnya lebih mementingkan pekerjaannya daripada dirinya.

Kejadian ini terlihat sepele, apalagi setelah ayahnya selesai dengan pekerjaannya, dia kemudian mendatangi sang anak dan menanyakan tentang gambar tadi, serta memuji sang anak karena gambarnya bagus, sang anak terlihat ceria, dan ayahnya berpikir sudah tidak ada masalah.

Tetapi, keyakinan yang disimpulkan dari penolakan oleh ayahnya tadi, bisa jadi tetap ada dalam diri sang anak (lebih tepatnya, pada pikiran bawah sadar sang anak, dan tidak disadari bahkan oleh sang anak sendiri) dan bisa secara signifikan mempengaruhi kehidupan sang anak.

Efek apa yang akan ditimbulkan oleh keyakinan ini bergantung kejadian-kejadian selanjutnya yang dia alami. Jika dalam hidupnya selanjutnya sang anak mendapatkan banyak kasih sayang dari orang tua dan lingkungannya, keyakinan ini mungkin akan bersifat pasif, bahkan hilang begitu saja.

Tetapi jika dalam hidup selanjutnya sang anak tidak merasakan orang tuanya cukup mencintainya (bukan berarti orang tuanya tidak mencintainya lho ya, bisa saja orang tuanya benar mencintainya, tapi tidak bisa membuat sang anak merasa dicintai), kejadian-kejadian sepele lainnya seperti dibiarkan bermain sendirian oleh orang tuanya, bisa saja membuat keyakinan “aku tidak berharga” sang anak semakin kuat.

Ketika dewasa, sang anak bisa jadi adalah si C atau si D yang diceritakan di atas.

Si C bisa saja cantik, tetapi jauh di dalam hatinya tersimpan keyakinan bahwa dia tidak berharga, sehingga ada bagian dirinya yang takut tidak mendapatkan pasangan lebih baik dari mantan pacarnya. Si D bisa saja mempunyai keyakinan bahwa dia tidak berharga sehingga sangat takut pacarnya akan menyeleweng.

Yang lebih menarik adalah, keyakinan itu tersimpan cukup dalam di bawah sadar, sehingga kadang bahkan sang pemilik tidak menyadari adanya keyakinan tersebut. Keyakinan inilah, yang memunculkan emosi-emosi negatif yang dirasakan setiap ada suatu kejadian yang memicu. Jadi, suatu kejadian yang disertai emosi dapat membentuk suatu keyakinan, dan keyakinan inilah yang selanjutnya membangkitkan emosi setiap kali ada kejadian pemicu.

Supaya seseorang tidak lagi mengalami emosi-emosi negatif, ia harus mengubah keyakinan yang memicu emosi-emosi tersebut.

Asalkan itu bukan keyakinan inti (core belief) seperti keyakinan agama dan moral, hipnoterapi bisa membantu mengubah keyakinan dengan efektif. Tetapi, mengubah keyakinan dengan hipnoterapi tidak hanya dengan sugesti seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Seringkali, mengubah keyakinan membutuhkan lebih dari sekedar sugesti.

Jika emosi yang mendasari munculnya suatu keyakinan cukup kuat, emosi tersebut perlu dilepaskan (release) terlebih dahulu sebelum keyakinan tersebut dapat diubah. Seolah-olah dalam diri seseorang masih ada diri-kecilnya yang menunggu untuk bisa melepaskan semua emosi tertahan, menunggu untuk ditenangkan dan disayang.

Dengan teknik tertentu dalam hipnoterapi, seseorang bisa dibimbing untuk mengalami kembali kejadian ketika keyakinannya terbentuk. Di sini, setelah emosi nya dilepaskan (release), baru kemudian dilakukan pemaknaan ulang (relearning) terhadap kejadian tersebut, sehingga keyakinan lama yang tidak mendukung, terganti dengan keyakinan baru yang lebih mendukung. Hasilnya, kejadian yang dialami sekarang tidak lagi memicu timbulnya emosi-emosi tidak menyenangkan.

Perubahan keyakinan dengan hipnoterapi, jika dilakukan dengan cara yang benar, akan menghasilkan perubahan yang permanen.

Semoga catatan ini menambah wawasan anda-anda yang membaca, dan memberikan pengertian yang benar tentang hipnoterapi.

Catatan ini akan saya akhiri dengan kalimat dari Carl Jung:

“When an inner situation is not made conscious, it appears outside as fate”

Disarikan dari Yendi,Cht-AHI

Salam hidup lebih baik

Jimmy K Santosa,Cht-AHI(Akademi Hipnoterapi Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: